Koinonia

October 15, 2010

1. Kata “koinonia” adalah sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berarti “persekutuan” (bersekutu). Dalam kehidupan warga gereja kata “koinonia” sering kita pergunakan, khususnya dalam membicarakan tentang tri tugas panggilan dan suruhan gereja, yaitu : persekutuan (koinonia), kesaksian (marturia) dan pelayanan (diakonia).

Koinonia sebagai salah satu dari tugas panggilan dan suruhan gereja didunia ini menyatakan keberadaan gereja selaku persekutuan orang-orang percaya yang disuruh kedalam dunia.

Persekutuan itu nyata (konkret) yang mempunyai anggota jemaat, mempunyai peraturan dan mempunyai kepengurusan dengan susunannya. Tetapi persekutuan yang dinyatakan dalam bentuk jemaat-jemaat tidaklah sama dengan persekutuan-persekutuan lainnya di luar gereja. Persekutuan gereja dibangun diatas dasar para rasul dan para nabi dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru (Ef. 2:20). Persekutuan didalam Yesus Kristus yang berasaskan iman, kasih, dan pengharapan (I Kor. 13:3).

2. Gereja ada dan berada ditengah-tengah dunia ini sebagai suatu persekutuan (koinonia). Aspek koinonis dari gereja terwujud dalam persekutuan antara Yesus Kristus dan anggota jemaatNya dan antara sesama anggota jemaat. Persekutuan yang utuh antara Yesus Kristus dan gereja dinyatakan dengan ungkapan gereja sebagai tubuh Kristus (Ef.1:23; Kol.1:24).

Melalui gereja, seluruh anggota jemaat yang berbeda-beda, telah dipersatukan menjadi satu tubuh dalam Yesus Kristus. “Didalam satu Roh, kita semua baik orang Jahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (I Kor.12:13). Dengan demikian kita memahami bahwa persekutuan yang dibangun atas dasar kesatuan dalam Tubuh Kristus, menjadikan persekutuan jemaat dapat mengatasi segala perbedaan, baik suku, bangsa, status sosial, pendidikan dan sebagainya.

3. Gereja sebagai satu persekutuan dalam tubuh Kristus sulit diterima oleh akal budi manusia. Gereja sebagai tubuh Kristus hanya dapat dipahami berdasarkan iman yang tumbuh oleh kuasa Roh Kudus. Melalui kehadiran Roh Kudus (band. Kis.2) Allah bekerja mempersatukan jemaat-jemaat melalui umat pilihanNya. Adanya jemaat sebagai tubuh Kristus di dunia ini adalah karena pekerjaan Roh Kudus yang memimpin dan menolong anggota jemaat (Roma 8:15-16,26).

Dengan demikian koinonia berarti juga persekutuan jemaat dalam persekutuan Roh. Kuasa yang nyata dari Roh Kudus yang memimpin, menolong, menasehati, menghibur, membaharui dan mempersatukan warga jemaat. Demikian juga dengan kurnia-kurnia Roh untuk hikmat, mujizat, nubuat, bahasa lidah, penyembuhan, pengajaran diberikan kepada warga jemaat. Karunia Roh Kudus yang diterima masing-masing warga jemaat berbeda dan terbatas menurut ukuran pemberian Kristus (Ef.3:7; I Kor.12:11).

Dalam kepelbagaian karunia Roh Kudus, anggota jemaat dipersatukan dalam Roh Kudus. Roh Kudus menjadi jaminan dari semua yang telah dijanjikan oleh Allah untuk umatNya (II Kor.1:22).

4. Gereja sebagai persekutuan dalam tubuh Kristus dan dalam Roh Kudus, didunia ini terwujud melalui anggota-anggota jemaat yang berkumpul. Dalam Kristus anak-anak Allah yang tercerai berai dikumpulkan dan dipersatukan (Yoh.11:52). Gereja sebagai persekutuan terdapat di semua tempat di dunia ini (band. Ef.1:23), menjadi satu persekutuan menyeluruh. Tetapi juga ada persekutuan jemaat dalam wilayah (daerah) tertentu, yang dalam kesaksian Perjanjian Baru kadang-kadang disebut dalam bentuk tunggal, misalnya : jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria (Kis. 9:31), dan kadang-kadang disebut dalam bentuk jamak, misalnya : Jemaat-jemaat di Asia Kecil (I Kor.16:9), jemaat-jemaat di Yudea (Gal. 1:22). Kadang-kadang juga persekutuan jemaat terdapat pada satu tempat tertentu, misalnya : jemaat di Korintus (I Kor. 1:2) atau jemaat di Tesalonika ( I Tes. 1:1).

Jemaat sebagai persekutuan, baik disuatu tempat tertentu, maupun di suatu wilayah / daerah, berhubungan satu sama lain, menjadi satu persekutuan keluarga besar. Persekutuan jemaat mempunyai tempat yang konkrit dan tertentu, tetapi ia bukan merupakan jemaat seandainya ia berada di tempat tertentu saja. Hal ini dapat kita pahami dari kesaksian Alkitab. Dikatakan “Jemaat Tesalonika, di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus”. Itu berarti bahwa Jemaat Tesalonika, selain dari berada di Tesalonika, jemaat itu juga berada di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Demikianlah persekutuan jemaat dimana-mana, selain berada disuatu tempat tertentu, ia berada di “tempat” lain, yaitu dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Demikianlah jemaat yang berkumpul dimana-mana menjadi satu persekutuan dengan seluruh umat Allah.

5. Koinonia, sebagai salah satu dari tugas panggilan dan suruhan gereja di dunia ini, mengharuskan gereja mewujudkan persekutuan didalam Yesus Kristus dan berdiri teguh dalam satu Roh. Dalam persekutuan jemaat aspek menyeluruh (total) diwujudkan dalam persaudaraan dalam Kristus. Yesus telah mati untuk semua orang. Dengan demikian persekutuan jemaat adalah juga persekutuan ibadah. Melalui persekutuan ibadah, anggota jemaat menyadari bahwa seluruh hidup orang percaya adalah korban yang harus dipersembahkan kepada Allah (Roma 12 : 1). Sebagai persekutuan ibadah, Gereja adalah persekutuan dari umat yang kudus, umat milik Allah (1 Pet. 2 : 9), persekutuan yang tidak bercacat (Ef. 5:27), tiang penopang dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15).

Marturia

October 15, 2010

1. LATAR BELAKANG DAN ARTI
Tugas kesaksian adalah “Amanat Agung” Yesus Kristus. Untuk itu, selayaknyalah warga gereja menyadari serta memahaminya dan bukan hanya oleh para ‘pelayan-pelayan’ gereja.
Kata ‘kesaksian’ adalah terjemahan dari kata : marturia atau martyfrein (Bahasa Junani). Marturia berasal dari kata martus, artinya saksi. Dalam dunia Junani (kuno), kata martus secara khusus digunakan pada bidang hukum : yakni, saksi solemnitas dan saksi prosesuil.
Tugas saksi terutama saksi prosesuil adalah memberitahu hakim tentang apa yang telah terjadi, dengan tidak menambahkan atau mengurangkan sesuatu. Dengan kata lain, saksi harus mengatakan kebenaran. Dan apa yang dinyatakan oleh saksi, itulah yang disebut dengan kesaksian.

2. SAKSI DALAM ALKITAB
2.1. Didalam Alkitab (Septuaginta, terjemahan Junani), hal yang sama tentang saksi dapat kita temukan, misalnya :
- Saksi dalam “suatu perjanjian” (Bil. 35 : 30 ; Ul. 19 : 15).
- Saksi dalam “suatu kejadian”, yang biasanya disebut sebagai “saksi mata” dan “saksi telinga” (Ul. 5 : 1 ; Bil. 23 : 18 ; Yes. 8 : 2).
Dalam proses hukum yang berlaku ditengah-tengah Israel, peran saksi punya tanggung jawab besar. Hal ini menjadi jelas bagi kita apabila kita baca aturan dalam Bil. 35 : 30 dan Ul. 19:15. Disana dikatakan, hidup atau matinya seorang terdakwa bergantung pada keterangan (kesaksian) para saksi-saksi. Itu makanya Hukum Allah melarang kesaksian dusta (Kel. 20:16).
2.2. Kata marturia dalam Alkitab (Septuaginta) bukan hanya dipakai dalam bidang hukum, tapi juga dipakai dalam hal keagamaan (religius).
Contoh yang jelas dapat kita temukan dalam Jes. 43:9-13 dan Jes. 44 : 7-11. Disana dikatakan bahwa : Allah (Jahwe) bertindak menempatkan diriNya bersama-sama dengan bangsa-bangsa kafir dalam suatu proses, dan harus diambil keputusan tentang siapakah Allah yang benar, Apakah Allah (Jahwe) atau ilah-ilah (dewa) kafir. Dalam proses tadi :
- Bangsa Israel bertindak sebagai “Saksi Allah (Jahwe)”, dan,
- Bangsa kafir sebagai “saksi ilah-ilah (dewa) kafir”.
Peran Israel sebagai “saksi Allah (Jahwe)” adalah berdasarkan panggilan, pemilihan dan kelepasan yang diperbuat Allah (Jahwe) bagi umat Israel, melalui Perjanjian Allah di Gunung Sinai (Kel. 20 : 1 dst).
Umat Israel dijadikan sebagai umat yang kudus, “penyambung lidah bagi Allah”, menjadi saksi yang benar dan setia dari FirmanNya, sehingga mereka tidak boleh mengurangi atau menambah satu katapun juga.
Disamping itu, peran pribadi sebagai “saksi Allah” banyak ditemukan dalam Perjanjian Lama. Peran ini juga adalah berdasarkan panggilan Allah, untuk menyampaikan FirmanNya kepada UmatNya. Diantaranya adalah para nabi. Panggilan dan pemilihan umat Israel dan nabi-nabi menjadi “saksi-saksi Allah (Jahwe)”, adalah merupakan anugerah Allah yang amat besar.
2.3. Dalam Perjanjian Baru, kata “marturia” atau “martyrein” dipakai secara khusus bagi saksi-saksi Kristus, yakni para murid-murid Yesus, serta setiap orang percaya. Di dalam PB, kata ini adalah sebanyak 76 buah, dan 43 diantaranya terdapat dalam Injil Yohanes serta surat-surat Yohanes.

3. KESAKSIAN PARA MURID JESUS
Untuk pertama sekali, tugas kesaksian diberikan Yesus kepada para muridNya. Murid-muridNya, ditetapkan Yesus sebagai saksi bagiNya (Luk.24:48; Kis.1:8). Tugas para murid selaku “saksi-saksi Kristus” adalah memberikan kesaksian tentang Yesus. Dengan kata lain, mewartakan Kabar Baik dari Allah kepada seluruh umat manusia, yakni kelepasan (keselamatan) yang dikerjakan oleh Yesus Kristus melalui penderitaan dan kebangkitanNya, serta kenaikan dan kedatanganNya kembali di dalam kemuliaan.

Saat ini, marturia (kesaksian) dipakai untuk menyatakan tugas gereja dan orang percaya, untuk bersaksi tentang kasih Kristus kepada dunia.
Tugas ini, disamping bersekutu (koinonia) dan melayani (diakonia), adalah tugas gereja dan orang-orang percaya yang tidak akan pernah berubah sepanjang jaman.

4. KESAKSIAN DAN WARGA GEREJA
Dalam Alkitab (PB) kita menemukan “Amanat Agung” Yesus Kristus untuk memberitakan Injil (Mark.16:15; Mat.28:20). Tugas panggilan memberitakan Injil inilah yang disebut : Bersaksi atau Kesaksian (= marturia).
Untuk tugas ini ada 3 (tiga) hal yang perlu disadari dan dipahami :
4.1. Tugas kesaksian adalah tugas panggilan bagi semua orang percaya
Semua orang percaya terpanggil sebagai “saksi-saksi Injil”, baik secara sendiri dan atau bersama-sama dalam persekutuan jemaat/gereja.
4.2. Isi kesaksian, adalah : Injil Yesus Kristus yang utuh
Kita harus sadar dan memahami, bahwa Injil bukan hanya terbatas pada soal-soal rohani dan sorgawi saja. Dalam Injil diberitakan bahwa Yesus mengampuni dosa, tapi juga menyembuhkan dan memberi makan. Dengan demikian, harus kita sadar dan pahami bahwa Injil Yesus Kristus itu adalah berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan yang telah disediakan bagi manusia (Mark.1:15), tetapi juga berita kebebasan, keadilan, kebenaran dan kesejahteraan yang dikehendaki Tuhan untuk dunia (Luk.4:18-21).

4.3. Alamat kesaksian, adalah segenap manusia serta segala mahluk
Gereja dan warganya dipanggil untuk memberitakan Kabar Baik dari Allah untuk semua orang, agar percaya dan diselamatkan (Mat.28:19-20; Luk.24:47-48).
Disisi lain, gereja dan warganya harus menyadari fungsinya sebagai : penguasa, pengelola serta pemelihara lingkungan hidup dan alam semesta. Inilah yang dimaksudkan dengan tugas kesaksian kepada segala mahluk ( Mark. 16:15).
Untuk mencapai sasaran ini, ada dua (2) arah kesaksian gereja : yakni,
- Kesaksian ke dalam
Artinya : memberitakan Injil untuk membimbing dan mendewasakan gereja dan warganya agar diperlengkapi untuk setiap perbuatan yang baik (2 Tim.3:15-17) sehingga mampu menjadi “saksi Injil” di tengah-tengah lingkungan dan pekerjaan masing-masing. Dengan kata lain, warga gereja harus dapat menghayati iman, etik dan perilaku kristen sesuai Firman Tuhan, dalam hidup sehari-hari. Untuk sasaran ini, maka kesaksian dipahami dalam bentuk : khotbah, pembinaan, pendidikan/ pengajaran bagi semua warga gereja.
- Kesaksian keluar
Artinya, memberitakan Injil kepada semua orang dan kepada segala mahluk dalam segala aspek kehidupannya. Untuk sasaran ini, maka kesaksian gereja atau warga gereja harus dipahami dalam fungsi Profetis yakni sebagai nabi yang bertugas menyampaikan Firman Tuhan; dan dalam keteladanan Kristus, yakni sebagai Garam dan Terang (Mat.5:13-14).
Dalam 1 Petrus 2:9 dikatakan : “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia …”

Didalam sejarah PI di Simalungun, tercatat Kongsi Laita (15 Nopember 1931), dan Parguru Saksi Kristus (tahun 1942). Demikian juga halnya dengan peran “teacher-preacher”, yakni para guru yang bekerja di sekolah Zending yang sekaligus juga berperan dalam tugas kesaksian, yakni sebagai pemberita injil.
Semuanya itu menunjukkan kesaksian warga gereja, baik secara sendiri dan juga secara bersama dalam persekutuan jemaat, yang banyak menolong perkembangan Injil di Simalungun.

5. PENUTUP
Dalam kata mutiaranya M. Luther berkata : “Adalah menjadi tugas utama dari kasih yang harus dikerjakan oleh seorang Kristen, jika telah menjadi orang percaya, yaitu membawa orang-orang lain untuk beriman, sebagaimana dia sampai kepada Iman.
Tentu yang dimaksud M. Luther disini adalah : Kesaksian. Tugas itu adalah tugas gereja dan warganya sepanjang masa.

Diakonia

October 15, 2010

DIAKONIA Diakonia berasal dari bahasa Junani : Diakonein, yang berarti melayani. Umumnya diartikan sebagai melayani meja makan (seperti pelayanan : sitahu bagod” bagi raja-raja Simalungun dahulu kala, yang selalu sedia tatkala raja bersantap). Dalam Perjanjian Baru kata ini dipakai sebanyak seratus kali dalam berbagai bentuk. Umumnya diartikan sebagai Pelayanan Kristus atau Pelayanan Jemaat (Kolose 1:7). Namun makna yang paling penting ialah pelayanan Kristus bagi umatNya (Markus 10:45) dengan memberikan nyawaNya. Karena itu semua pelayan Jemaat pada mulanya disebut sebagai Diakonos. Tetapi kemudian hari dari istilah inilah timbul kata Diaken. Yang dipakai oleh Gereja sebagai sebutan kepada sekelompok pelayan yang bertugas melayani Jemaat di luar hal-hal yang berkaitan dengan Liturgi (Kebaktian). Mereka memperhatikan kehidupan orang-orang yang berada dalam kesusahan terutama pada janda dan yatim piatu. Justru oleh karena pelayanan para Diaken ini terdapat orang-orang yang susahlah nampak keindahan persekutuan Jemaat mula-mula. Dan ini jugalah yang menarik perhatian orang lain untuk menjadi pengikut Kristus (Kisah Rasul 6:1-7). Dari sana nampak jelas bahwa pemberitaan Firman itu tidak terpisahkan dari pelayanan (Diakonia) dan juga persekutuan Jemaat (Koinonia). Dalam perkembangan masa kini, pemahaman tentang makna Diakonia telah semakin berkembang. a. Diakonia bukan lagi hanya tugas para Diaken, melainkan tugas seluruh warga Jemaat karena Diakonia adalah tugas Gereja secara menyeluruh selaku tubuh Kristus. b. Diakonia bukan hanya ditujukan kepada sesama anggota Jemaat tetapi juga kepada umat kepercayaan lain, bahkan sampai kepada seluruh ciptaan (Mark. 10:45). c. Diakonia (menurut GBKU GKPS 1995-2000) 1) Meringankan penderitaan yatim piatu, janda, jompo dan mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakatan. 2) Melestarikan Lingkungan Hidup 3) Meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri warga Jemaat. Ketiga tujuan tersebut di atas dapat diuraikan dalam 3 jenis Diakonia : a. Diakonia Karitatip Karitatip berasal dari kata Charity (Inggris) yang berarti belas kasihan. Diakonia jenis ini memberikan pelayanan yang cuma-cuma kepada orang yang tidak mampu, kena penyakit, kemalangan atau kena bencana. Pelayanan jenis ini tidak bertujuan untuk membawa yang dilayaninya kepada suatu perubahan, melainkan hanya sekedar meringankan penderitaan mereka yang dilayani. Misalnya : Memberi sedekah pada orang miskin, menjenguk orang sakit, melayat orang kemalangan atau yang kena bencana. b. Diakonia Reformatip Reformasi berarti merubah ke arah yang lebih baik. Pelayanan jenis ini berusaha meningkatkan kehidupan atau kondisi yang dilayani, misalnya melalui penyuluhan atau pemberian bantuan berupa modal kerja. Hal ini biasa dianalogikan dengan memberikan pancing serta ketrampilan memancing kepada orang kelaparan. Bukan memberikan ikan, karena setelah ikan itu habis maka ikan yang baru harus diberi lagi (seperti Diakonia Karitatip). c. Diakonia Transformatip Transform artinya merubah bentuk atau susunan menjadi yang berbeda atau lain. Diakonia jenis ini berusaha melakukan perubahan yang mutlak, bukan sekedar mengusahakan peningkatan pada yang dilayani. Diakonia Reformatip misalnya berusaha memampukan petani meningkatkan produksi pertaniannya dari satu ton setiap tahun menjadi dua atau tiga ton dengan memperkenalkan teknologi yang lebih baik dan juga modal yang diperlukan. Dalam hal tersebut kurang dipermasalahkan apakah produksi yang meningkat tersebut akan sungguh-sungguh dapat meningkatkan taraf kehidupan petani. Kenyataannya produksi yang melimpah sering merugikan petani. Timbulnya usaha mengembangkan usaha Diakonia Transformatip ini, adalah berdasarkan kenyataan bahwa baik Diakonia Karitatip maupun Reformatip kedua-duanya sering tidak dapat membantu masyarakat yang dilayani dalam memecahkan permasalahan mereka. Peningkatan modal dan teknologi sering belum mampu menjawab masalah yang dihadapi. Analogi yang diangkat pada pelayanan Diakonia Reformatip di atas dapat diperpanjang dengan masalah selanjutnya yang lebih rumit. Setelah orang kelaparan tersebut diberikan pancing dan diajari tekniknya, orang tersebut pergi ke sungai untuk memancing, ternyata dia diusir dari sana, karena sungai tersebut telah dikuasai oleh orang lain. Sewaktu dia pergi ke sungai yang lain lagi, disana dia mengalami kekecewaan karena di sungai itu tidak ada ikan lagi, airnya sudah tercemar berat oleh limbah pabrik. Pelayanan Diakonia Transformatip ini sering harus berhadapan dengan mereka yang telah berhasil menguasai bidang-bidang tertentu. Dalam I Raja-raja 21 ditampilkan kekuasaan raja yang dapat menjadi sewenang-wenang untuk memenuhi keinginannya. Apa yang akan terjadi dengan keluarga Nabot sekiranya Elia tidak berani menyampaikan teguran kepada Raja Ahab? Mereka akan menjadi petani anggur yang tidak punya kebun anggur lagi ! Diakonia jenis Transformatip berusaha memapukan manusia untuk dapat menentukan hidupnya sendiri lepas dari kekangan orang lain.

Hello world!

October 15, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.